Site Loader

1. Latar Belakang

1.1.  Pendahuluan
Blok cipher merupakan algoritma kriptografi simetrik yang

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

mengenkripsi satu blok plaintext dengan jumlah bit tertentu dan menghasilkan
blok ciphertext dengan jumlah bit yang sama. Misalkan ukuran blok plaintext
yang dienkripsi adalah 64-bit, maka akan menghasilkan ciphertext yang
berukuran 64-bit juga.

DES adalah salah satu algoritma kriptografi blok cipher dengan ukuran
blok 64-bit dan menggunakan kunci berukuran 56-bit. Algoritma DES dibuat
di IBM, dan merupakan modifikasi daripada algoritma terdahulu yang
bernama Lucifer. Lucifer merupakan algoritma cipher block yang beroperasi
pada blok masukan 64-bit dan kuncinya berukuran 128 bit.

Sedangkan AES merupakan lanjutan dari algoritma enkripsi standar
DES yang masa berlakunya dianggap telah usai karena faktor keamanan. AES
adalah blok chipertext simetrik yang mengunkan kunci kriptografi 128, 192
atau 256-bit untuk mengenkripsi dan mendekripsi data pada blok 128-bit.

1.2.  Rumusan Masalah

?  Bagaimana DES dan AES melakukan enkripsi-dekripsi pada plaintext

untuk mendapatkan ciphertext dan sebaliknya?

?  Berapa waktu yang dibutuhkan DES dan AES untuk melakukan enkripsi-

dekripsi?

?  Apa alasan DES dan AES dijadikan standar keamanan dalam kriptografi

dan bagaimana tingkat keamanannya?

1.3.  Tujuan

?  Mengetahui metode dan skema yang digunakan DES maupun AES

?  Mengetahui algoritma enkripsi DES maupun AES

?  Mengetahui lama waktu enkripsi dan dekripsi DES dan AES

?  Mengetahui keunggulan dan kelemahan dari enkripsi DES dan AES

?  Mengetahui perbedaan antara DES dan AES

3

2. Kajian Pustaka

2.1. Penelitian Terdahulu
Pada tahun 2009, Andriyanto, melakukan Studi perbandingan

algoritma DES dan AES untuk membandingkan kinerja algoritma DES dan
AES dalam hal kecepatan proses dan penggunaan memori pada saat proses
enkripsi dan dekripsi suatu file. Selain itu implementasi algoritma enkripsi dan
dekripsi Twofish pada perangkat mobile yang berbaasis android digunakan
untuk mengamankan Short Message Service (SMS) (Wijaya, 2011). Dalam
hal komunikasi data antar komputer maupun tranfer file dari satu device ke
device yang lain, keamanan data sangatlah penting. Oleh karena itu
penggunaan algoritma kriptografi ElGamal, Grain V1 dan AES untuk proses
enkripsi dan dekripsi terhadap resep masakan (Zulhazmi, 2012).

Keamanan data privasi mendapat ancaman besar khususnya data
video. Oleh karena itu pengamanan kriptografi mempunyai peran penting
dalam hal ini. Sehingga penilitian tentang perbandingan algoritma kriptogarfi
DES, 3DES dan AES perlu dilakukan untuk mengetahui hasil algoritma yang
tepat digunakan untuk proses enkripsi sebuah data video. Pada penelitian ini
sesuai dengan faktorfaktor yang telah ditentukan, algoritma AES terbukti
lebih baik dari DES dan 3DES (Alanazi, 2010). Pada tahun 2010,
Thulasimani, Sumber daya (battery) sangat berpengaruh pada aktivitas sebuah
perangkat mobile. Pada penelitian kali ini, algotima AES dipilih sebagai
algoritma yang akan menangani proses enkripsi dan dekripsi. Melalui
beberapa hasil uji coba, algoritma AES bekerja dengan panjang kunci yang
berbeda-beda yaitu 128, 192 dan 256 yang digunakan mampu menghemat
konsumsi daya baterai pada perangkat mobile.

4

2.2. Teori Kriptografi
Enkripsi adalah salah satu teknik yang paling baik untuk menjaga

kerahasiaan suatu data dalam berkomunikasi. Dengan enkripsi, suatu
informasi akan menjadi sulit untuk diketahui oleh orang yang tidak berhak.
Tujuan dari makalah ini adalah untuk lebih mengetahui tekhik-teknik
mengamankan pengiriman data dengan enkripsi. Enkripsi data yang akan
dibahas pada makalah ini adalah Data Encryption Standard dan Advanced
Encryption Standard.

Algoritma simetris atau disebut juga algoritma Kriptografi
konvensional adalah algoritma yang menggunakan kunci yang sama untuk
proses enkripsi dan proses dekripsi. Algoritma Kriptografi simetris dibagi
menjadi 2 kategori yaitu algoritma aliran (Stream Ciphers) dan algoritma blok
(Block Ciphers). Pada algoritma aliran, proses penyandiannya berorientasi
pada satu bit atau satu byte data. Sedang pada algoritma blok, proses
penyandiannya berorientasi pada sekumpulan bit atau byte data (per blok).
Contoh algoritma kunci simetris adalah DES (Data Encryption Standard),
blowfish, twofish, MARS, IDEA, 3DES (DES diaplikasikan 3 kali), AES
(Advanced Encryption Standard) yang bernama asli Rijndael.

Kriptografi asimetrik (asymmetric cryptography) adalah algoritma
yang menggunakan kunci yang berbeda untuk proses enkripsi dan dekripsi.
Kunci enkripsi dapat disebarkan kepada umum dan dinamakan sebagai kunci
publik (public key) sedangkan kunci dekripsi disimpan untuk digunakan
sendiri dan dinamakan sebagai kunci pribadi (private key). Oleh karena itulah,
Kriptografi ini dikenal pula dengan nama Kriptografi kunci publik (public key
cryptography). Contoh algoritma terkenal yang menggunakan kunci asimetris
adalah RSA (Riverst Shamir Adleman) dan ECC (Elliptic Curve
Cryptography).

5

3. Metode Penelitian
Metodologi penelitian yang akan diterapkan pada makalah ini terdiri dari dua

yaitu metode Deskriptif Analitik yang melakukan pengumpulan data dengan
mempelajari, mengamati, studi literatur serta didukung dengan metoda transformasi
wavelet diskrit untuk menguji dan menemukan gambaran dari keamanan sistem serta
melakukan proses pengujian keamanan dari sisi enkripsi dan dekripsi dari ke tiga
algoritma sehingga diharapkan kualitas dari citra digital akan lebih aman.

6

4. Pembahasan

4.1. DES (Data Encryption Standard)
DES termasuk ke dalam sistem kriptografi simetris dan tergolong jenis

blok cipher. Dalam melakukan dekripsi harus dilakukan dengan menggunakan
kunci yang sama dengan saat proses enkripsi. Sejumlah data yang akan di
enkripsi disebut sebagai permutasi awal atau Initial Permutation. Permutasi
awal ini merupakan hasil permutasi dari plaintext yang telah dirubah menjadi
bilangan biner. Sedangkan kunci yang digunakan dalam proses enkripsi
disebut Key Schedule. Permutasi juga akan dilakukan pada kunci tersebut yang
telah dirubah menjadi bilangan biner dengan pengurangan sebanyak 8-bit
menjadi 56-bit.

Gambar: Tabel Permutasi pada Plaintext

Gambar: Tabel Permutasi pada Kunci

Dari gambar diatas diapat diketahui bahwa bit ke-58 dari plaintext
sebelum dilakukan permutasi terletak pada bit ke-1, bit ke-50 dipindahkan ke
bit ke-2, bit ke-42 dipindahkan ke bit ke-3 dan seterusnya. Tabel tersebut
hanya berlaku pada plaintext dan tidak berlaku pada kunci dikarenakan kunci
tersebut hanya memerlukan 56-bit. Sedangkan untuk tabel permutasi pada
kunci menggunakan tabel berbeda. Dari tabel permutasi untuk kunci tersebut
terlihat bahwa hanya terdapat 56 sel yang sesuai dengan banyaknya bit pada

7

kunci. Ada beberapa angka yang tidak tertera yaitu 8, 16, 24, 32, 40, 48, 56
dan 64 yang merupakan bilangan berkelipatan 8.

Kemudian dalam proses selanjutnya hasil permutasi awal akan melalui
fungsi yang merupakan proses inti dari DES itu sendiri. Didalam fungsi
tersebut terdapat beberapa tahapan. Sebelumnya, dalam proses enkripsi blok
plaintext dibagi menjadi 2, yaitu bagian kiri dan bagian kanan yang masing-
masing memiliki panjang 32-bit.

Gambar: Proses Fungsi Enkripsi

Dalam proses enkripsi, blok plainteks terbagi menjadi dua bagian yaitu
bagian kiri (L) dan bagian kanan (R), yang masing masing memiliki panjang
32 bit. Pada setiap putaran i, blok R merupakan masukan untuk fungsi
transformasi fungsi f. Pada fungsi f, blok R dikombinasikan dengan kunci
internal Ki. Keluaran dari fungsi ini di XOR kan dengan blok L yang langsung
diambil dari blok R sebelumnya. Ini merupakan 1 putaran DES.

Dari Gambar tersebut jika (L16, R16) merupakan keluaran dari
putaran ke-16, maka (R16, L16) merupakan pre-ciphertext dari proses enkripsi
ini. Ciphertxt yang sebenarnya diperoleh dengan melakukan permutasi awal
balikan, IP-1, terhadap blok pra-cipherteks.

8

Selanjutnya, kedua bagian digeser ke kiri (left shift) sepanjang satu
atau dua bit bergantung pada tiap putaran. Operasi pergeseran bersifat
wrapping atau round-shift. Jumlah pergeseran pada setiap putaran ditunjukkan
pada tabel berikut. Setelah pergeseran bit, (Ci, Di) mengalami permutasi
kompresi menggunakan tabel pergeseran dan permutasi kompresi berikut.

Gambar: Tabel Pergeseran Bit

Gambar: Tabel Permutasi Kompresi

4.2. AES (Advanced Encryption Standard)
AES ini merupakan algoritma block cipher dengan menggunakan

sistem permutasi dan substitusi (P-Box dan S-Box) bukan dengan jaringan
Feistel sebagaiman block cipher pada umumnya. Jenis AES terbagi 3, yaitu:
AES-128, AES-192 dan AES-256.

Pengelompokkan jenis AES ini adalah berdasarkan panjang kunci
yang digunakan. Angka-angka di belakang kata AES menggambarkan
panjang kunci yang digunakan pada tipa-tiap AES. Selain itu, hal yang
membedakan dari masing-masing AES ini adalah banyaknya round yang

9

dipakai. AES-128 menggunakan 10 round, AES-192 sebanyak 12 round, dan
AES-256 sebanyak 14 round.

Add Round Key pada dasarnya adalah mengkombinasikan chiper teks
yang sudah ada dengan chiper key yang chiper key dengan hubungan XOR.
Bagannya bisa dilihat pada gambar 7.

Gambar: Add Round Key

Pada gambar tersebut di sebelah kiri adalah chiper teks dan sebelah
kanan adalah round key nya. XOR dilakukan per kolom yaitu kolom-1 chiper
teks di XOR dengan kolom-1 round key dan seterusnya.

Prinsip dari Sub Bytes adalah menukar isi matriks/tabel yang ada
dengan matriks/tabel lain yang disebut dengan Rijndael S-Box. Di bawah ini
adalah contoh Sub Bytes dan Rijndael S-Box.

Prinsip dari Sub Bytes adalah menukar isi matriks/tabel yang ada
dengan matriks/tabel lain yang disebut dengan Rijndael S-Box. Di bawah ini
adalah contoh Sub Bytes dan Rijndael S-Box.

Gambar: Tabel Sub Bytes

10

4.3. Uji Waktu Eksekusi dengan Bahasa Pemrograman Java
Didalam pengujian, beberapa package dibutuhkan didalam program

Java tersebut, antara lain:

?  java.security. KeyPairGenerator;

?  java.security.KeyPair;

?  java.security.PrivateKey;

?  java.security.PublicKey;

?  java.security.SecureRandom;

?  java.security.Security;

?  javax.crypto.Cipher;

?  javax.crypto.CipherInputStream;

?  javax.crypto.CipherOutputStream;

Sedangkan untuk spesifikasi computer yang saya gunakan antara lain
menggunakan prosesor AMD A6 yang berkecepatan 1,8ghz, RAM sebanyak
4 GB dan HardDisk SSD.

11

5. Simpulan

5.1.  Metode dan Algoritma

?  Baik algoritma DES maupun AES telah berhasil menyembunyikan
hubungan apapun yang ada antara plaintext, ciphertext dan kunci.
Untuk kedua algoritma, perubahan pada 1-bit plaintext juga
menyebabkan banyak pengaruh pada ciphertext.

?  Prinsip cipher berulang yang pada prinsipnya mengulang proses
enkripsi beberapa kali dengan kunci yang telah berbeda dengan
sebelumnya juga dilaukan pada algoritma DES maupun AES

?  Kedua algoritma memiliki S-Box, meskipun demikian algoritma AES
hanya memiliki 1 S-Box. Sedangkan pada DES memiliki sebanyak 16
S-Box.

?  Algoritma pada DES memanfaatkan prinsip P-Box, sedangkan pada
AES tidak, tetapi menggunakan metode lain yaitu dengan fungsi
tertentu untuk melakukan transformasi dan permutasi.

5.2.  Performa

?  Panjang karakter masukkan dan Panjang kunci berbanding lurus

terhadap waktu proses enkripsi dan dekripsi kedua algoritma.

?  Waktu proses enkripsi dan dekripsi pada algoritma AES lebih rendah
daripada DES, karena algoritma AES memiliki struktur cipher dan

penjadwalan kunci yang relative lebih sederhana.

12 

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Katherine!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out