Site Loader

Di era
globalisasi yang penuh persaingan saat ini, menuntut organisasi untuk mampu
beradaptasi agar mampu bertahan untuk mencapai tujuannya. Hal ini berarti bahwa
suatu organisasi harus mampu memengaruhi anggotanya agar selalu bertindak
dengan cara-cara yang bermanfaat bagi organisasi misalnya melakukan penyesuaian
diri terhadap masalah yang terjadi dalam organisasi. Di dalam organisasi, cara
ini dilaksanakan dengan pengendalian kekuasaan yang dilakukan oleh pemimpin
organisasi.

Pengendalian
kekuasaan yang dilakukan oleh pemimpin organisasi kadang-kadang tidak tampak
dengan jelas dalam organisasi, sehingga anggota organisasi tidak menyadari
bahwa mereka sedang dipengaruhi untuk memenuhi keinginan orang lain. Bagi beberapa
orang, organisasi merupakan tempat dimana mereka dapat memperoleh dan
menggunakan kekuasaan. Kekuasaan dapat menjadi bahan rebutan apabila
orang-orang atau kelompok-kelompok dalam lingkungan organisasi melakukan
persaingan untuk dapat memengaruhi dan mengendalikan orang lain. Dan apabila
orang-orang atau kelompok-kelompok dalam organisasi tersebut berinteraksi dalam
suatu kontes kekuasaan, terciptalah kemudian apa yang disebut dengan politik
dalam organisasi. Golongan-golongan mulai terbentuk, orang-orang bersekutu,
berkoalisi, serta mengadakan perjanjian-perjanjian. Penggunaan kekuasaan dan
politik dalam organisasi ini akan menentukan keberhasilan organisasi.

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Politik dalam
organisasi adalah sebuah fakta kehidupan dimana perkembangan dan aktivitasnya
saat ini telah menjadi bagian yang menarik untuk dikaji karena merupakan
sesuatu yang sulit untuk dihindari. Organisasi terdiri atas dua orang atau
lebih dengan perbedaan kepentingan, pendapat, dan cara pandang yang dapat menimbulkan
keinginan untuk memengaruhi orang lain agar dapat sejalan dengan yang
diinginkannya. Berdasarkan latar belakang tersebut, makalah ini akan membahas
lebih lanjut mengenai politik organisasi dan kepemimpinan. 

A. 
Pengertian
Politik Organisasi

1.   
Politik

Politik adalah organisasi masyarakat dan pembuatan keputusan
kolektif tentang sumber daya (Bambra, Smith, dan Kennedy, 2008). Laswell (1936)
dalam Bambra et al (2008) menyatakan bahwa politik adalah siapa dapat apa,
kapan dan bagaimana (who gets what, when,how) (Palutturi, 2015).

Beberapa
ahli mengemukakan definisi dari ilmu politik (Fahmi, 2016), antara lain:

a.   
Menurut
Johann Kaspar Blutschill, ilmu politik adalah ilmu yang peduli dengan negara
yang berusaha untuk mengerti dan memahami negara dalam kondisinya, yang sungguh
alami, dalam bentuk yang bermacam-macam atau pengumuman pembangunan.

b.   
Menurut
J. Barents, ilmu politik adalah ilmu yang mempelajari kehidupan negara … yang
merupakan bagian dari kehidupan masyarakat; ilmu politik mempelajari
negara-negara itu melakukan tugas-tugasnya.

c.   
Menurut
W. A. Robson, ilmu politik mempelajari kekuasaan dalam masyarakat yaitu sifat
hakiki, dasar proses-proses ruang lingkup dan hasil-hasil.

Dari beberapa pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa ilmu
politik merupakan disiplin ilmu yang menekankan dan menegaskan kepada mereka
yang berada dalam suatu negara agar berpartisipasi secara sungguh-sungguh dalam
usaha menciptakan suatu tatanan kehidupan berbangsa dan bernegara secara
berharkat dan bermartabat dengan menjadikan pemerintahan sebagai penguasa untuk
berperilaku demokratis dan selalu mengedepankan nilai-nilai yang berlaku secara
universal (Fahmi, 2016).

 

 

2.   
Politik
Organisasi

Saat ini dapat dikatakan bahwa hampir seluruh umat manusia memiliki
perhatian atau setidaknya harus memahami kondisi perkembangan politik yang
terjadi, khususnya yang terjadi di tempat ia berada. Seringkali pendapat
tentang politik dihubungkan dengan kekuasaan, namun pemahaman seperti itu tidak
selamanya bisa dianggap benar karena penggunaan politik bisa saja untuk
mendukung ke arah perubahan dan mengawal berlangsungnya perubahan tersebut.

Di organisasi, politik dipakai dan diterapkan sebagai pendukung
perubahan. Beberapa karyawan yang ikut terlibat dalam politik organisasi
biasanya cenderung mendukung penciptaan perubahan dan menginginkan peubahan
terjadi. Namun, beberapa orang yang lain cenderung tidak menyukai perubahan.
Maka biasanya tidak medukung terjadinya gerakan politik perubahan (Fahmi, 2016).

Semakin besarnya suatu organisasi maka perbedaan latar belakang
anggota organisasi menyebabkan lahirnya berbagai perbedaan pendapat dan
perbedaan cara pandang yang dapat dianggap sebagai warna yang menunjukkan dinamika
organisasi (Fahmi, 2016).

Perbedaan dan keberagaman dari segi perspektif  politik dapat dilihat sebagai kekuatan yang
bisa mendorong pembentukan perubahan ke arah yang lebih baik bagi organisasi.
Hal itu dapat terjadi apabila seorang pemimpin dapat memanfaatkannya secara
positif. Namun, hal itu bisa jadi sebaliknya apabila tidak dimanfaatkan dengan
baik.

 

B. 
Pengertian
Kepemimpinan

Terdapat banyak pandangan yang berbeda mengenai pengertian
kepemimpinan. Kepemimpinan menurut Rowitz (2009) adalah kreativitas dalam
tindakan atau kemampuan untuk menciptakan sesuatu yang baru. Northouse (2004)
mengatakan kepemimpinan adalah sebuah proses dimana individu mempengaruhi
kelompok individu untuk mencapai tujuan bersama (Palutturi, 2013).

Sedangkan McShane dan Von Glinow (2010) menyatakan kepemimpinan
adalah tentang memengaruhi, memotivasi, dan memungkinkan orang lain memberikan
kontribusi ke arah efektifitas dan keberhasilan organisasi dimana mereka
menjadi anggotanya. Kepemimpinan adalah proses memengaruhi dan mendukung orang
lain untuk bekerja secara antusias menuju pada pencapaian sasaran (Newstrom,
2011). Kepemimpinan merupakan faktor penting yang membantu individu atau
kelompok mengidentifikasi tujuannya dan kemudian memotivasi dalam mencapai
tujuan yang telah ditetapkan (Wibowo, 2015).

Kepemimpinan bersifat dinamis (Rowitz, 2009). Kouzes dan Posner
dalam Rowitz (2009) pernah melakukan identfikasi sifat kepemimpinan pada tahun
1987 dan 1995 dari responden yang berasal dari empat benua, yaitu Amerika,
Asia, Eropa, dan Australia. Dari hasil identifikasi tersebut diperoleh bahwa
sifat kepemimpinan yang paling sering disebutkan adalah jujur, berpandangan ke
depan, mampu menginspirasi, kompeten dan cerdas. Sifat kepemimpinan lainnya
misalnya berterus terang, berani, peduli, tekun, ambisius, setia, mandiri dan
mampu mengontrol diri (Palutturi, 2013).

Masalah kepemimpinan berkembang sejalan dengan perkembangan
organisasi. Ada beberapa solusi secara umum yang dapat diterapkan dalam
menyelesaikan masalah dalam bidang kepemimpinan (Fahmi, 2016), yaitu:

1.   
Membangun
dan menghilangkan semangat kemalasan di kalangan para karyawan.

2.   
Bagi
para pemimpin agar selalu melakukan up grade pada ilmu yang dimiliki agar perkembangan
ilmu yang terjadi di setiap waktu dapat terus diterapkan di perusahaan atau
organisasi.

3.   
Pemimpin
yang bijaksana adalah yang memiliki jiwa tempramen yang rendah

4.   
Pemimpin
yang dipilih adalah pemimpin yang jauh dari mental korupsi, kolusi, dan nepotisme.

5.   
Pemimpin
yang dipilih adalah yang memiliki jiwa dan semangat tidak mabuk atau terlalu
cinta pada kekuasaan.

 

C. 
Implikasi
Positif dan Negatif

1.   
Politik
Organisasi

Politik adalah ilmu untuk meraih kekuasaan. Russel (1986)
menyatakan bahwa kekuasaan sebagai hasil pengaruh yang diharapkan. Maka dengan
menggunakan pengaruh politik untuk mendapatkan kekuasaan dan cita-cita yang
diinginkan untuk mendukung perubahan organisasi ke arah yang lebih baik menjadi
hal yang dianggap layak untuk diterapkan. Namun jika tidak maka artinya
menggunakan politik untuk memuaskan diri sendiri sebagai pemegang kekuasaan (Fahmi, 2016).

a.   
Implikasi
Positif

Nelson & Quick (1997; dalam Wulani, 2004) mengartikan politik
organisasi sebagai penggunaan power dan pengaruh dalam organisasi. Politik
organisasi menunjuk pada kebutuhan untuk berkuasa dan mempengaruhi seseorang. Oleh
sebab itu, organisasi harus menggunakan politik organisasi dalam mengelola dan
meningkatkan produktivitas kerja karyawan (Gunawan, 2012). Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya bahwa  politik dipakai dan diterapkan sebagai
pendukung perubahan, sehingga dengan penerapan politik dalam organisasi dapat
mempertahan persaingan dengan organisasi lainnya.

b.   
Implikasi
negatif

Drory & Romm (1990; Greenberg & Baron, 1997; dalam Gunawan, 2012) menyatakan bahwa politik organisasi merupakan tindakan yang tidak
secara formal dibuktikan dalam organisasi, dilakukan dengan mempengaruhi orang
lain untuk mencapai tujuan perseorangan.

Semakin banyaknya anggota dalam organisasi, makan semakin banyak
pula kepentingan di dalamnya. Setiap pihak dalam organisasi akan melakukan apa
pun yang bisa mereka lakukan untuk mendukung kepentingannya serta untuk
melakukan hal-hal yang menguntungkan dirinya. Dan apabila hal ini terjadi
secara terus-menerus, maka akan memberikan dampak pada eksistensi organisasi.

Semakin banyak anggota organisasi yang lebih mengedepankan
kepentingan pribadinya, tujuan organisasi akan semakin terabaikan. Oleh
karenanya, peran pemimpin harus dapat meminimalkan agar politik organisasi
tidak memicu konflik yang dapat memecah belah organisasi.

2.   
Kepemimpinan

Pada era globalisasi, kepemimpinan yang dibutuhkan adalah yang
memiliki kompetensi yang tinggi dan kompetensi tersebut dapat diperoleh jika
pemimpin memiliki pengalaman dan pengetahuan yang maksimal untuk dapat
menjalankan organisasi.

Menurut Aan komariah bahwa kepemimpinan merupakan satu aspek
penting dalam organisasi yang merupakan faktor penggerak organisasi melalui
penanganan perubahan dan manajemen yang dilakukannya, sehingga keberadaan
pemimpin bukan hanya sebagai simbol yang ada atau tidaknya tidak menjadi
masalah, akan tetapi keberadaannya memberi dampak positif bagi perkembangan
organisasi (Fahmi, 2016).

Seorang pemimpin dengan jiwa kepemimpinan harus mampu mendorong dan
menggerakkan organisasi sesuai dengan visi, misi, dan tujuan organisasi dengan
mengesampingkan kepentingan pribadi. Selain itu, untuk mendorong dan
menggerakkan organisasi, seorang pemimpin juga berkewajiban untuk memahami
anggota organisasinya karena seorang pemimpin memiliki pengaruh yang besar
dalam menciptakan kualitas kerja yang diharapkan.

Brantas mengemukakan bahwa kepemimpinan tidak terlepas dari
nilai-nilai yang dimiliki oleh pemimpin seperti yang diuangkapkan oleh Guth dan
Taguin (Salusu, 2000; dalam Fahmi, 2016) :

a.   
Teoritik
yaitu nilai-nilai yang berhubungan dengan usaha mencari kebenaran dan mencari
pembenaran secara rasional;

b.   
Ekonomis
yaitu yang tertarik pada aspek-aspek kehidupan yang penuh keindahan, menikmati
setiap peristiwa untuk kepentingan sendiri;

c.   
Sosial
yaitu menaruh belas kasihan pada orang lain, simpati, tidak mementingkan diri
sendiri;

d.  
Politis
yaitu berorientasi pada kekuasaan dan melihat kompetisi sebagai faktor yang
sangat vital dalam kehidupannya;

e.   
Religius
yaitu selalu menghubungkan setiap aktivitas dengan kekuasaan Sang Pencipta.

 

D. 
Peranan
Kepemimpinan dalam Politik Organisasi

Pada dasarnya, kemampuan untuk memengaruhi orang atau suatu
kelompok untuk mecapai tujuan ada unsur kekuasaan. Kekuasaan yang dimaksud
adalah kemampuan untuk memengaruhi orang lain untuk melakukan apa yang
diinginkan oleh pihak lain.

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa politik dalam
organisasi merupakan kekuasaan untuk mempengaruhi dan mengendalikan seseorang
agar bertindak sesuai dengan yang diinginkannya. Pengendalian kekuasaan ini
dilakukan oleh pemimpin organisasi. Pemimpin sebagai penguasa organisasi harus
memiliki jiwa kepemimpinan untuk memengaruhi dan memotivasi anggota organisasi
agar dapat berkontribusi ke arah efektifitas dan keberhasilan organisasi.

Dapat disimpulkan bahwa peranan kepemimpinan dalam politik
organisasi adalah pemimpin dengan jiwa kepemimpinan yang dimiliki melakukan
pengaruh dan pengendalian terhadap anggotanya agar bertindak dengan cara-cara
yang bermanfaat untuk mempertahankan dan memajukan organisasi sesuai dengan
visi, misi, dan tujuan organisasi.

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Katherine!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out