Site Loader

Sebagaimana penjelasan di atas, telah disinggung
bahwa habitus mendasari terbentuknya ranah, namun  dalam pengertian lain  ranah
atau arena menjadi  tempat bagaimana
habitus bekerja. Ranah merupakan arena  bertemunya berbagai kekuatan yang di dalamnya terdapat
upaya perjuangan untuk memperebutkan kekuasaan dan untuk menguasai yang lain. Oleh karena itu, untuk berpatisipasi dalam persaingan atau perebutan kekuasaan/kepentingan
dalam ranah sosial, masing-masing agen harus memiliki habitus (bekal atau
kekuatan) yang sesuai untuk beradaptasi. Agen harus memiliki pengetahuan,
keterampilan dan bakal yang tepat agar bisa berjuang dalam arena tersebut, dan
supaya berhasil agen harus memiliki modal serta memanfaatkannya sebesar dan
sebisa mungkin. Bourdieu berpendapat bahwa kekuasaan seseorang dalam masyarakat
berhubungan erat dengan capital (modal-modal) yang dimiliki, serta
komposisi dan akumulasi dari modal-modal yang dimiliki tersebut. Dalam
konsepsinya tentang capital, Bourdieu memberi tekanan pada komposisi dan
akumulasi, karena kebernilaian dan bobot suatu capital berbeda-beda
tergantung (ditentukan oleh) medan-medan sosialnya, serta posisi-posisi sosial
pemiliknya. Bourdieu menegaskan bahwa, arena  (champ), atau ranah (medan perjuangan)
yang berbeda-beda memberi nilai tipe-tipe atau bentuk-bentuk capital yang
berbeda-beda pula. Pertanyaan yang perlu diajukan adalah: apa yang dimaksud
dengan capital (modal) yang merupakan kata kunci terakhir dari teori Bourdieu?.

Menurut pengertian umum, konsep modal (capital)
adalah konsepsi yang biasa dipakai dalam khasanah ilmu ekonomi, yang menunjuk
pada uang atau barang yang digunakan sebagai pokok, sebagai dasar, atau sebagai
bekal usaha (berdagang atau apa pun jenis usahanya) untuk menghasilkan sesuatu
yang dapat menambah kekayaan. Borudieu menggunakan istilah capital
(modal) dalam konsepsi sosiologinya untuk menjelaskan hubungan-hubungan
kekuasaan dalam masyarakat, karena capital (modal) memiliki ciri-ciri
yang, menurut Bourdieu, dapat digunakan untuk menjelaskan hubungan-hubungan
kekuasaan dalam masyarakat tersebut.1

We Will Write a Custom Essay Specifically
For You For Only $13.90/page!


order now

Dalam konteks pemikiran Bourdieu, konsep capital
(modal) dipakai untuk menunjuk keseluruhan sumber daya atau kualitas yang
dimiliki oleh individu-individu atau posisi-posisi sosial yang memiliki
pengaruh atau nilai sosial. Selain itu, dalam sosiologi Bourdieu, konsep modal
juga digunakan (sebagai alat) untuk memetakan hubungan-hubungan kekuasaan dalam
masyarakat, dan untuk mengelompokkan masyarakat ke dalam kelas-kelas sosial
tertentu. Menurut Bourdieu, semakin besar sumber daya (capital) yang
dimiliki, baik dari segi komposisi maupun jumlahnya (diferensiasi dan
distribusinya), maka akan semakin besar pula kekuasaan yang dimiliki seseorang.
Dengan demikian, dalam komunitas sosial, para pelaku sosial akan menempati
posisi masing-masing yang ditentukan oleh besaran modal dan komposisi modal
yang dimiliki oleh masing-masing pelaku sosial.

Bourdieu mengidentifikasi ada empat bentuk capital
(modal) yang utama. Keempat bentuk modal yang dimaksud adalah: economic capital
(modal ekonomi), cultural capital (modal budaya), social capital (modal
sosial), dan symbolic capital (modal simbolik). Menurut Bourdieu,
kandungan otoritas (kebernilaian) masing-masing bentuk modal ditentukan oleh
medan-medan perjuangan (camp, ranah) terkait. Untuk memperoleh pemahaman
tentang bentuk-bentuk modal sebagaimana dikonsepsikan Bourdieu, perhatikan
uraian berikut:

Pertama, economic capital (modal ekonomi).  Menurut konsepsi teori sosiologi
Borudieu, seluruh kepemilikan kekayaan materiil seperti tabungan uang yang
banyak—baik tunai maupun non-tunai, kepemilikan unit-unit usaha, kepemilikan
tanah yang luas, pendapatan, warisan harta atau finansial, dan bentuk-bentuk
kekayaan materiil lainnya yang dapat berperan dalam penentuan dan reproduksi
kedudukan-kedudukan sosial digolongkan sebagai modal ekonomi. Dalam realitas
politik, meski tidak menjadi unsur dominan, modal ekonomi sangat menentukan
hubungan kekuasaan. Pada umumnya, kepemilikan modal ekonomi mengacu pada
kepemilikan uang.

Dalam gagasannya tentang modal ekonomi, Bourdieu
tidak bisa lagi menyembunyikan pengaruh sosiologi Marxis dalam pikiran dan
pemikirannya. Sebagaimana telah disinggung di atas, Borudieu menyatakan bahwa,
“modal ekonomi adalah akar dari semua jenis (bentuk) modal lain.”2

 Kedua, cultural capital (modal budaya). Modal
budaya adalah keseluruhan kode-kode budaya yang hidup dalam komunitas tertentu,
yang diyakini dan diakui kebernilaiannya, serta berperan dalam penentuan dan
reproduksi kedudukan-kedudukan sosial (untuk memperoleh kekuasaan dan status).
Dalam Language and Symbolic Power, Bourdieu menyebut modal budaya
(cultural capital) sebagai “prestise atau  gengsi sosial”.3

Bourdieu membedakan modal budaya ke dalam
beberapa bentuk: Pertama: bentuk modal budaya yang menubuh atau bentuk
simbolik sebagai kebudayaan yang diinternalisasi, seperti: pengetahuan yang
telah didapat, kemampuan menulis, cara pembawaan: sopan-santun, cara berbicara,
cara bergaul, cara makan, dan lain sebagainya; Kedua: bentuk modal
budaya yang terobjektifikasi pada objek-objek materi dan media, seperti:
(koleksi) lukisan karya pelukis terkenal, dan/atau benda-benda budaya lainnya
yang bernilai tinggi; dan Ketiga: bentuk modal budaya yang
terinstitusionalisasi, seperti ijazah akademik.4
Penting untuk dicatat bahwa, terkait dengan modal kultural, Bourdieu tidak
hanya mengangkat hakikat modal kultural yang harus diakumulasikan agar dapat
mencapai tujuan, tetapi juga mengeksplorasi kode-kode linguistik yang dengannya
modal kultural disebarluaskan.5

Ketiga, social capital (modal sosial).
Yang dimaksud modal sosial adalah hubungan-hubungan dan jaringannya yang
merupakan sumber daya yang berguna dalam penentuan dan reproduksi
kedudukan-kedudukan sosial. Keseluruhan sumber daya yang didasarkan pada hubungan-hubungan
sosial (koneksi), jaringan, dan keanggotaan dalam kelompok (organisasi) yang
berguna dalam penentuan dan reproduksi kedudukan-kedudukan sosial,
dikategorikan sebagai modal sosial. Hubungan kekerabatan (genealogi), hubungan
pertemanan, dan organisasi, adalah bentuk-bentuk modal yang termasuk modal
sosial. capital (modal spiritual), modal yang, antara lain, menurunkan
religious capital. Terkait dengan jenis modal ini, ada hal penting yang perlu
dicatat bahwa, dalam pengetahuan kehidupan sehari-hari, spiritual capital dan
religious capital sering disama-artikan dan sering juga
dicampur-adukkan. Padahal, spiritual capital (modal spiritual) dan religious
capital (modal keagamaan) adalah dua hal yang berbeda; meski
keduanya mempunyai hubungan yang sangat erat. Spiritual capital (modal
spiritual) dan religious capital (modal keagamaan) memiliki
hubungan kausalitas. Religious capital muncul dari spiritual capital.
Spiritual capital menurunkan religious capital. Manusia memiliki
kesadaran untuk beragama adalah akibat dari kesadaran dirinya akan
eksistensinya sebagai suksma kang mangejawantah (roh yang membadan) atau
pangejawantahan suksma (badan yang berjiwakan atau “berisikan” roh).
Perasaan kasihan melihat orang lain menderita; gerakan batin untuk menolong
orang lain; dan lain sebagainya adalah bentuk-bentuk ekspresi dari keberadaan spiritual
capital. Kalau begitu, lantas, apa yang membedakan modal spiritual (spiritual
capital) dan modal keagamaan (religious capital)?

Modal spiritual (spiritual capital) adalah
kemampuan individu yang muncul dari eksistensinya sebagai roh (suksma).
Karena itu, tidak keliru jika spiritual capital disebut, atau dinamai,
sebagai modal kasuksman. Adalah suatu fakta sosial (kenyataan sosial)
bahwa, dalam komunitas sosial tertentu, orang-orang berkeyakinan bahwa
manusia sebagai suksma kang mangejawantah (roh yang membadan), pada
dasarnya, adalah jiwa-jiwa, roh-roh, atau suksma-suksma yang dianugerahi,
diayomi, dan diayemi oleh Sang Suksma Sejati (Sang Suksma Kawekas)—Tuhan
Allah yang menciptakan dan “menggerakkan kehidupan” jagad raya dan seluruh
ciptaan yang ada di dalamnya. Dalam bahasa filsafat, sebagai “ada”, keberadaan
manusia selalu dalam “genggaman” (rengkuhan) Yang Maha”Ada”. Dalam
konfigurasi spiritual yang demikian, orang-orang sering kali dikuatkan oleh
kekuatan-kekuatan gaib (nir-kasat mata) sebagai buah dari doa-doa
spiritual yang dimantrakan. Maka, menjadi tidak mengherankan jika dalam
perjuangan (pertarungan) untuk memperebutkan dominasi, otoritas, prestise,
kekuasaan, dan pada akhirnya juga kekayaan,

Keempat, symbolic capital (modal
simbolik). Modal simbolik adalah suatu bentuk modal ekonomi fisikal
(material) yang telah mengalami transformasi dan, karena itu, tersamarkan dari
bentuk aslinya. Dalam Outline of A Theory of Practice (1977,1979: 183),
Pierre Bourdieu mendiskripsikan symbolic capital sebagai:

“a transformed and
thereby disguised form of physical „economic? capital, produces its proper
effect inasmuch, and only inasmuch, as conceals the fact that it
originates in „material? forms of capital wich are also, in the last
analysis, the source of its effects.”

Modal simbolik menghasilkan efeknya yang tepat
sepanjang, dan hanya sepanjang, menyembunyikan fakta bahwa ia tampil dalam
bentuk-bentuk modal fisikal (material) meskipun modal material itu adalah
sumber efek-efeknya. Dengan ungkapan lain, dapat dikemukakan bahwa, yang
dimaksud symbolic capital (modal simbolik) adalah keseluruhan sumber
daya yang eksistensinya berada di balik “keangkuhan” fisik (hexis) dan
modal ekonomi yang berguna dalam penentuan dan reproduksi kedudukan-kedudukan
sosial.

Modal simbolik tidak terlepas dari kekuasaan
simbolik, yaitu kekuasaan yang memungkinkan untuk mendapatkan posisi yang
setara dengan apa yang diperoleh melalui kekuasaan fisik dan ekonomi sebagai
akibat khusus suatu mobilisasi. Aneka gelar (gelar kebangsawanan, gelar
pendidikan, gelar keagamaan: Haji, Kiai, Pendeta, dan lain sebagainya);
kepemilikan mobil mewah dan layanan sopir pribadi, kepemilikan rumah mewah dan
kantor yang megah di tempat-tempat yang strategis, adalah bentuk-bentuk dari
modal simbolik.

Selain keempat capital yang diidentifikasi
dan dikemukakan Bourdieu, berdasarkan sumber, sifat, dan bentuknya, juga
didapati dan diidentifikasi adanya jenis capital (modal) lainnya, yaitu spiritual
orang sering datang kepada para tokoh agama, dhukun, paranormal, saman,
atau apapun sebutan bagi orang-orang yang diyakini dapat mbuka
wiwaraning kasuksman (membuka pintu kesadarannya sebagai roh),
memberikan mantra-mantra sebagai kunci untuk mendapatkan kekuatan
spiritual.

Kebernilaian dan bobot suatu capital
berbeda-beda tergantung (ditentukan oleh) medan-medan sosial yang melingkungi,
serta posisi-posisi sosial pemilik dan penggunanya. Bourdieu menegaskan bahwa,
lapangan (fields), atau ranah (medan perjuangan) yang berbeda-beda
memberi nilai tipe-tipe atau bentuk-bentuk capital yang berbeda-beda pula.
Sebagai contoh: dalam medan sosial keagamaan, pengetahuan keagamaan (modal
budaya); serta derajad, pangkat, dan prestise (modal simbolik, seperti predikat
Kiai, Ustad, Haji, dan lain-lainnya) dinilai (mempunyai nilai) lebih tinggi
daripada hubungan-hubungan sosial dan kekayaan (materiil) meski semuanya
diperlukan untuk membangun dan mempertahankan status sosial seseorang. Dalam
medan sosial politik, hubungan-hubungan sosial (modal sosial) dan kekayaan
(modal ekonomi) umumnya cenderung dinilai lebih tinggi ketimbang pengetahuan
(modal budaya), derajad, pangkat, dan prestise, meski seperti halnya dalam
medan sosial keagamaan semuanya diperlukan. Sementara itu, dalam dunia akademik
(field academic), pengetahuan dinilai (mempunyai nilai) lebih
tinggi dibandingkan dengan nilai bentuk-bentuk atau tipe-tipe capital
lainnya. Dalam dunia akademik, pengetahuan merupakan sumber daya utama dalam
pertarungan untuk memperebutkan dominasi, otoritas, prestise, kekuasaan, dan
pada akhirnya juga kekayaan materiil, ketimbang sumber daya ekonomi.

1 Sebagaimana dikemukakan Bonnewitz (1998: 43),
modal memiliki ciri-ciri: 1 terakumulasi melalui investasi; 2 dapat
diberikan kepada yang lain melalui warisan; dapat memberi keuntungan sesuai
dengan kesempatan yang dimiliki oleh pemegangnya (pemiliknya) untuk
mengoperasikan penempatannya. Patrice Bonnewitz, Premières leçon sur la
sosiologie de Pierre Bourdieu, (Paris: PUF), sebagaimana dikutip Haryatmoko
dalam Menyingkap Kepalsuan Budaya Penguasa, BASIS edisi Nomor
11-12, Tahun ke-52, Nopember-Desember 2003, dalam catatan kaki nomor 1,
11

2 Lihat lagi Pierre Bourdieu, The Forms of
Capital, dalam J.G. Richardson (ed.), Handbook of Theory and Research
for Sociology of Education, (Greenwood Press, 1986), 241-258; sebagaimana
dikutip John Field, Social Capital, (London: Routledge, 2003), edisi Indonesia,  24.

3 Lihat Bourdieu, Language and Symbolic Power,
(Cambridge: Polity, 1991), 229-231; sebagaimana dikutip Jenkins dalam Pierre
Bourdieu Routledge, (London, 1992). Lihat edisi Indonesia hlm. 125

4 George Ritzer dan Barry Smart, Masyarakat
Modern sebagai Masyarakat Pengetahuan, dalam George Ritzer dan Barry
Smart (eds.), Hanbook of Sicial Theory, (London: SEGE Publications,
2001). Edisi Indonesia buku ini diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Jogjakarta,
2011, dengan judul Handbook Teori Sosial. Untuk kutipan ini, lihat edisi
Indonesia hlm. 996; dan lihat juga Beverley Skeggs, dalam Ritzer (ed.), The
Wiley Blackwell Companion to Sociology, (Blackwell Publishing Ltd.,
John Wiley and Sons Ltd., West Sussex, UK, 2012). Edisi Indonesia buku
ini diterbitkan oleh Pustaka Pelajar Jogjakarta, 2013. Untuk referensi ini
perhatikan edisi Indonesia, hlm. 455.

5 Jan Branson dan Don Miller, Pierre Bourdieu,
dalam Peter Beilharz (ed.), edisi Indonesia hlm. 52

Post Author: admin

x

Hi!
I'm Katherine!

Would you like to get a custom essay? How about receiving a customized one?

Check it out